Kumpulan RPP Kurikulum 2013 SD, MI, SMP , MTS, SMA, MA, SMK Terlengkap

Jumat, 25 Mei 2018

Pembahasan Kimia No. 31 - 35 TKD Saintek SBMPTN 2016 Kode Naskah 225

Pembahasan soal Kimia Tes Kemampuan Dasar Sains dan Teknologi (TKD Saintek) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2016 kode naskah 225 nomor 31 sampai dengan nomor 35 tentang:
  • kimia unsur, 
  • bentuk molekul, 
  • konsep mol, 
  • pereaksi pembatas, dan 
  • stoikiometri.

Soal No. 31 tentang Kimia Unsur

Nilai energi pengionan ke-1 sampai ke-5 untuk unsur X pada golongan utama berturut-turut adalah 509, 979, 3300, 4400, dan 5700 kJ.mol−1. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa unsur X cenderung membentuk ion ….
A.   X+1
B.   X+2
C.   X+3
D.   X+4
E.   X+5

Pembahasan

Energi pengionan atau energi ionisasi adalah energi yang dibutuhkan oleh suatu atom untuk melepas elektron.
Jika untuk melepas 1 elektron dibutuhkan energi yang besar maka suatu atom cenderung tidak melepas elektron. Sebaliknya, jika energi ionisasinya kecil maka atom akan cenderung melepas elektron.
Ibarat membeli suatu barang, seseorang cenderung melepas uangnya untuk barang yang lebih murah.
Perhatikan grafik energi pengionan atom X berikut ini.
Grafik energi ionisasi atom X, energi pengionan atom golongan IIA

Energi ionisasi (EI) ke-1 dan ke-2 jauh lebih kecil daripada EI ke-3, ke-4, dan ke-5.
Mula-mula atom X melepas 1 elektron dengan menggunakan EI ke-1 menjadi X+. Karena EI ke-2 masih relatif kecil, atom X melepas 1 elektron lagi menjadi X+2.
Sedangkan EI ke-3 sangat besar (lebih dari 3 kali lipat) sehingga atom X tidak melepas elektron lagi.
Jadi, unsur X cenderung membentuk ion X+2 (B).

Soal No. 32 tentang Bentuk Molekul

Senyawa kovalen X2Y terbentuk dari atom dengan nomor atom X dan Y berturut-turut 17 dan 8. Bentuk molekul yang sesuai untuk senyawa kovalen tersebut adalah ….A.   linear
B.   segitiga datar
C.   bentuk V
D.   piramida segitiga
E.   tetrahedral

Pembahasan

Kita tentukan dulu konfigurasi elektron atom X dan Y.
17X : 2  8  7    (7 elektron terluar)
8Y   : 2  6        (6 elektron terluar)
Atom X mempunyai 7 elektron terluar sehingga membutuhkan 1 elektron dari Y agar terpenuhi kaidah oktet (jumlah elektron terluar = 8). Sedangkan atom Y mempunyai 6 elektron terluar sehingga membutuh 2 elektron dari X.
Senyawa yang terbentuk adalah X2Y atau YX2 sehingga yang menjadi atom pusat adalah Y.
Struktur Lewis senyawa X2Y, atom Y sebagai atom pusat, 2 elektron berpasangan, 2 elektron terikat

Perhatikan elektron terluar pada atom pusat Y! Dari 6 elektro terluarnya, 2 elektron digunakan untuk mengikat atom X (m = 2). Sisa 4 elektron membentuk 2 pasang elektron bebas (n = 2).
Dengan demikian, tipe molekulnya adalah:
AXmEn → AX2E2
Tipe molekul AX2E2 mempunyai bentuk molekul bentuk V (diketahui dari tabel).
Tabel tipe dan bentuk molekul bisa dilihat di Pembahasan Kimia: Bentuk Molekul.
Jadi, bentuk molekul senyawa kovalen X2Y adalah bentuk V (C).

Soal No. 33 tentang Konsep Mol

Analisis terhadap suatu senyawa menghasilkan rumus empiris NaCO2 (Ar Na = 23, O = 16, dan C = 12). Jika 1 mol senyawa ini mempunyai massa 134 g dan bilangan Avogadro L = 6,02 × 1023 maka jumlah atom karbon dalam 0,1 mol senyawa ini adalah ….A.   1,2 × 1023
B.   6,02 × 1023
C.   3,01 × 1023
D.   3,01 × 1022
E.   6,02 × 1020

Pembahasan

Rumus molekul (RM) merupakan kelipatan bilangan bulat dari rumus empiris. Rumus molekul senyawa tersebut adalah:
RM = (NaCO2)n
Rumus molekul inilah yang digunakan dalam penentuan besar massa molekul relatif (Mr).
Jika 1 mol (NaCO2)n mempunyai massa 134 g maka:
       Mr (NaCO2)n = gr/mol
(23 + 12 + 2×16)n = 134/1
                       67n = 134
                           n = 2
Sehingga rumus molekul senyawa tersebut adalah:
(NaCO2)2 → Na2C2O4
Jumlah atom C dalam 0,1 mol senyawa Na2C2O4 adalah:
N = banyak atom C dalam Na2C2O4 × mol × L
    = 2 × 0,1 × 6,02 × 1023
    = 1,2 × 1023
Jadi, jumlah atom karbon dalam 0,1 mol senyawa tersebut adalah 1,2 × 1023 (A).

Soal No. 34 tentang Pereaksi Pembatas

Sebanyak 5,6 g B2H6 direaksikan dengan 4,2 g Cl2 sehingga terjadi reaksi berikut:B2H6(g) + Cl2(g) → BCl3(g) + HCl(g) (belum setara)
Massa HCl (Ar B = 11, H = 1, Cl = 35,5) yang diperoleh dari reaksi tersebut adalah ….
A.   7,3 g
B.   10,95 g
C.   21,9 g
D.   14,6 g
E.   36,5 g

Pembahasan

Reaksi di atas bila disetarakan akan menjadi:
B2H6 + 6Cl2 → 2BCl3 + 6HCl
Pada soal di atas, kedua pereaksi diketahui massanya. Berarti kita harus menentukan pereaksi pembatasnya, yaitu pereaksi yang habis bereaksi.
Kita mulai dengan menentukan mol dari B2H6 dan Cl2.
Mr B2H6 = 2×11 + 6×1
               = 28
mol B2H6 = 5,6/28 mol
                = 0,2 mol
Mr Cl2 = 2×35,5
            = 71
mol Cl2 = 4,2/71 mol
             = 0,6 mol
Untuk menentukan pereaksi pembatas, masing-masing mol kita bagi dengan koefisiennya. Yang memberikan hasil lebih kecil akan bertindak sebagai pereaksi pembatas.
B2H6 → 0,2/1 = 0,2
Cl2    → 0,6/6 = 0,1
Dengan demikian, yang bertindak sebagai pereaksi pembatas adalah Cl2. Artinya, 0,6 mol Cl2 akan habis bereaksi sedangkan 0,2 mol B2H6 akan tersisa (tidak dapat digunakan sebagai dasar penghitungan).
Berdasarkan pereaksi pembatas ini, kita dapat menentukan mol HCl melalui perbandingan koefisien.
mol HCl = 6/6 × 0,6 mol
              = 0,6 mol
Dengan demikian, massa HCl adalah:
gr HCl = mol × Mr
           = 0,6 × 36,5
           = 21,9
Jadi, massa HCl yang diperoleh dari reaksi tersebut adalah 21,9 g (C).

Soal No. 35 tentang Stoikiometri

Padatan NH4NO3 (Ar N = 14, H = 1, O = 16) jika dipanaskan akan terurai menjadi gas N2O dan uap air menurut reaksi berikut:NH4NO3(s) → N2O(g) + 2H2O(g)
Pemanasan 40 g padatan NH4NO3 menghasilkan 10 L gas N2O. Jika pada kondisi yang sama 10 L gas X memiliki massa 22 g maka massa molekul relatif (Mr) gas X adalah ….
A.   22
B.   44
C.   66
D.   88
E.   110


Pembahasan

Kita tentukan dulu mol dari pereaksinya.
Mr NH4NO3 = 2×14 + 4×1 + 3×16
                     = 80
mol NH4NO3 = 40/80 mol
                      = 0,5 mol
Karena koefisien N2O sama dengan koefisien NH4NO3 maka jumlah mol keduanya juga sama.
mol N2O = 0,5 mol
Pada kondisi yang sama, gas X memiliki massa 22 gram. Berarti mol gas X sama dengan mol gas N2O.
Pada kondisi yang sama, gas X memiliki massa 22 gram, mol X = mol N2O

Jadi, massa molekul relatif (Mr) gas X adalah 44 (B).

loading...
Previous
Next Post »

Posting Komentar