Buku Panduan Supervisi Pembelajaran di SD Untuk Kepala Sekolah dan Guru

Buku Panduan Supervisi Pembelajaran di SD Untuk Kepala Sekolah dan Guru, supervisi pembelajaran di sekolah dasar, Bila dikaji dari sisi etimologis istilah “supervisi” atau dalam bahasa Inggris “supervision” sering didefinisikan dengan pengawas dan kepalaaan. Sedangkan secara morfologis supervisi terdiri dari dua kata yaitu “super” yang berarti atas atau lebih dan “visi” mempunyai lihat, pandang ,tilik atau awasi. Dengan demikian supervisi dalam pengertian yang sederhana  yaiu melihat, meninjau atau melihat dari atas yang dilakukan oleh atasan (pengawas dan kepala,kepala sekolah) terhadap perwujudan kegiatan pembelajaran.
Supervisi diartikan sebagai layanan yang bersifat membimbing, memfasilitasi, memotivasi serta menilai guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan pengembangan profesinya secara efektif.
Pendekatan Supervisi
Berdasarkan cara bagaimana pengawas dan kepala sekolah bersama guru melakukan perbaikan dan siapa yang lebih dominan di antara keduanya, maka dibedakan tiga macam pendekatan, yaitu direktif, kolaboratif dan non-direktif.
1. Pendekatan Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada pengawas dan kepala sekolah.
2. Pendekatan Kolaboratif: Tanggung Jawab terbagi relatif sama antara supervisor dan guru
3. Pendekatan Non-Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada guru
Karakteristik dari tiga macam pendekatan supervisi pembelajaran tersebut,

Panduan Supervisi Pembelajaran di Sekolah Dasar

Model Supervisi 
Berdasarkan bagaimana cara memahami atau memastikan masalah, darimana datanya diperoleh dan dengan cara apa memperbaikinya, maka dibedakan tiga model supervisi pembelajaran, yaitu model saintifik, model artistik dan model Klinis. Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga model supervisi pembelajaran tersebut. 
1.   Model Supervisi Saintifik/Ilmiah 
Menurut Sahertian (2008) model supervisi ilmiah adalah sebuah model supervisi yang digunakan oleh supervisor untuk menjaring data atau informasi dan menilai kinerja kepala sekolah dan guru dengan cara menyebarkan angket. 
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Dilaksanakan secara berencana dan berkelanjutan. b. Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu c. Menggunakan instrumen pengumpulan data d. Dapat menjaring data yang obyektif 


2. Model Supervisi Artistik 
Model supervisi artistik menuntut seorang supervisor dalam melaksanakan tugasnya harus berpengetahuan, berketerampilan, dan memiliki sikap arif. Seperti diungkapkan oleh Jasmani dan Mustofa (2013; 31) model supervisi artistik mendasarkan diri pada bekerja untuk orang lain (working for the other), bekerja dengan orang lain (working with the other), dan bekerja melalui orang lain (working through the other). Oleh karena itu, pelaksanaan supervisi tentunya mengandung nilai seni (art). Menurut Sergiovanni model supervisi artistik memiliki beberapa karakteristik, antara lain: 
a. Memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara.  
b. Memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup.  
c. Mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda 
 d. Menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan  kelas.  
e. Memerlukan suatu kemampuan berkomunikasi yang baik dalam cara mengungkapkan apa yang dimiliki terhadap orang lain yang dapat membuat orang lain menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu.  
f. Memerlukan kemampuan untuk menafsirkan makna dari peristiwa yang diungkapkan 

Kunjungan Observasi (Observation Visits) 
Pada kegiatan supervisi dalam bentuk kunjungan kelas/observasi guru-guru ditugaskan untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilakukan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. Secara umum, aspek-aspek yang diobservasi adalah: 

Usaha-usaha dan aktivitas guru-peserta didik dalam proses pembelajaran, 
Cara menggunakan media pengajaran, 
Variasi metode, 
Ketepatan penggunaan media dengan materi, 
Ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan 
Reaksi mental para peserta didik dalam proses belajar mengajar.

Belum ada Komentar untuk "Buku Panduan Supervisi Pembelajaran di SD Untuk Kepala Sekolah dan Guru"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel